<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>

<rss version="2.0"
 xmlns:blogChannel="http://backend.userland.com/blogChannelModule"
>

<channel>
<title>Sekolah Komunikasi Terapan</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/</link>
<description>Publicist dan pengamat media. CEO Kanetmedia.com. Menyukai sastra, secangkir teh dan senja.

Jabat Erat
Yons Achmad
http://penakayu.blogspot.com

</description>
<pubDate>Mon, 14 May 2012 13:37:27 -0000</pubDate>
<lastBuildDate>Thu, 5 Jan 2012 05:18:23 -0000</lastBuildDate>

<image>
<title>Sekolah Komunikasi Terapan</title>
<url>http://multiply.com/mu/penamuda/logo</url>
<link>http://penamuda.multiply.com/</link>
<width>100</width>
<height>100</height>
</image>
<item>
<title>(Resensi Buku) The Paradise Journeys: Petualangan Traveler Muslim</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/reviews/item/24</link>
<description>Judul : The Paradise Journeys
Penulis : Muthia Esfand dkk
Penerbit : QultumMedia, Jakarta
Tebal : 314 Halaman
Cetakan : 1 November 2011
Harga : 43.000
 

Pada senja hening, Ibunya meninggal. Ia kehilangan single parentnya akibat kanker. Padahal ibunya adalah satu-satunya yang tersisa untuk cintanya. Ia benar-benar terpukul, merasa benar-benar kehilangan. Ia perlu sedikit udara segar. Ia ingin berkabung dengan caranya sendiri. Ia ingin tahu tentang rencana besar illahi apa lagi untuk dirinya. Satu-satunya yang terpikir olehnya waktu itu hanya satu. Ya, hanya satu, berpetualang, melakukan perjalanan (traveling). 

Itulah sepenggal pengalaman, awal mula perjalanan untuk sebuah pencarian yang dilakukan gadis berjilbab, salah satu penulis dalam buku ini. Kemudian, Ia memutuskan perjalanan 29 hari keliling pulau Sumatera, berkisah tentang arsitektur masjid, bangunan-bangunan Islam, kuliner dan juga khazanah sastra &#x26; budaya di sana. 

Itu saja tak cukup. Thailand disambanginya. Mu...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/reviews/item/24</guid>
<pubDate>Thu, 5 Jan 2012 05:18:23 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Resensi Buku) Madre: Kumpulan Cerita</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/reviews/item/23</link>
<description>Madre: Pertanyaan Berbuah Cerita
Oleh
Yons Achmad*

Judul Buku : Madre
Penulis : Dewi &#x201C;Dee&#x201D; Lestari
Penyunting: Sitok Srengenge
Perancang Sampul: Fahmi Ilmansyah
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Juni 2011
Tebal: 160 halaman


Apa itu Madre, cerita tentang apa itu? Inilah yang menggedor-gedor rasa ingin tahu saya segera membaca cerita karya terbaru Dee ini. Dalam kata pembuka, Dee mengaku, sering dalam melahirkan karya kreatif Ia memulai proses berkarya dengan bertanya. Dan, rupanya yang demikian pun mengena. Contohnya nampak pada judul buku cerita ini. Yang juga membuat pembaca bertanya-tanya juga dan tergoda mengetahui lebih detail isinya. Nah, Madre, boleh dikata endapan pertanyaan yang berbuat cerita.

Provokasi untuk membaca buku ini tambah membuncah. Terlebih, sebelum halaman cerita dimulai, sang penyunting, Sitok Srengenge menyanjung setinggi gunung karya ini. Baiklah, untuk kali ini saya kalah dan rela waktu tersita untuk membaca karya ini. ...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/reviews/item/23</guid>
<pubDate>Tue, 26 Jul 2011 04:54:56 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Resensi) Ensiklopedia Alloh</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/reviews/item/22</link>
<description>Ensiklopedia Alloh
Oleh
Yons Achmad*

Judul Buku		: Ensiklopedia Allah
Penulis			: Abu Fikri Ihsani
Penerbit		: Basmallah, Jakarta
Tebal			: 334 Halaman
Cetakan		: Pertama 2011


Masihkah menarik membincangkan Alloh? Di tengah dunia, saat banyak  manusia bahkan sering melupakan Sang Pencipta.  Manusia sibuk mengejar kenikmatan dunia. Mencari uang dan harta, demi sebuah kebahagiaan. Yang kadang hanya bisa dicitakan, tak semuanya menjadi kenyataan. Pemandangan ini sekarang  benar-benar nampak di depan mata.

Di tengah dunia yang semacam ini, rasanya kita perlu berhenti sejenak. Menyisakan waktu untuk membincang Alloh. Merenung kembali tentang hakikat kenapa manusia ada. Untuk kemudian sadar tentang siapa sebenarnya yang mencipta. Hadirnya buku ini, setidaknya salah satu jalan untuk bisa mengungkap rahasia. Tentang siapa kita dan pencipta.

Sang penulis, Abu Fikri Insani, nama pena dari Yanuardi Syukur, anggota Forum Lingkar Pena (FLP), mengajak kita semua untuk sejenak men...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/reviews/item/22</guid>
<pubDate>Fri, 8 Jul 2011 00:41:11 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Kolom Sastra) Menafsir Sebuah Puisi</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/journal/item/165/Kolom_Sastra_Menafsir_Sebuah_Puisi</link>
<description>Menafsir Sebuah Puisi&#x3C;br&#x3E;Oleh&#x3C;br&#x3E;Yons Achmad*&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;GoenawanMohammad, penyair dan penulis buku &#x201C;Kesusastraan dan Kekuasaan&#x201D; pernah mengatakan bahwa &#x201C;Dalam puisi pada mulanya adalah komunikasi&#x201D;. Doktrin ini mendapat tanggapan Hasan Haspahani, salah seorang Guru Puisi di Tanah Air. Penyair percaya bahwa pembaca puisinya bisa menerima bahkan menikmati puisi dan pesan yang ada dalam puisinya. Niat awal dari penyair adalah keinginan untuk berkomunikasi dengan pembacanya lewat puisi, bukan sekadar unjuk gaya, berakrobat kata-kata. Ini tentu saja bukan sebuah komunikasi yang praktis, seperti komunikasi kita dengan penjaga kios rokok di tepi jalan, ketika kita ingin beli rokok.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Sebuah puisi memang media sastra yang cukup populer. Kenapa? Martin Hedeigrer (1947) seorang Filsuf Metafisika pernah menyebut puisi sebagai media terbaik manusia untuk menghadirkan makna dunia yang melimpah. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Itulah sebabnya, penyair, sastrawan, orang kantoran, bahkan anak-anak sekolahpun bisa menulis puisi. Mereka mencoba memaknai per...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/journal/item/165/Kolom_Sastra_Menafsir_Sebuah_Puisi</guid>
<pubDate>Sun, 3 Jul 2011 05:57:00 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Kolom Sastra) Hujan Bulan Juni: Sebuah Tafsir</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/journal/item/164/Kolom_Sastra_Hujan_Bulan_Juni_Sebuah_Tafsir</link>
<description>Hujan  Bulan Juni: Sebuah Tafsir&#x3C;br&#x3E;oleh&#x3C;br&#x3E;yons achmad&#x3C;br&#x3E; &#x3C;br&#x3E;tak ada yang lebih tabah&#x3C;br&#x3E;dari hujan bulan Juni&#x3C;br&#x3E;dirahasiakannya rintik rindunya&#x3C;br&#x3E;kepada pohon berbunga itu&#x3C;br&#x3E; &#x3C;br&#x3E;tak ada yang lebih bijak&#x3C;br&#x3E;dari hujan bulan Juni&#x3C;br&#x3E;dihapusnya jejak-jejak kakinya&#x3C;br&#x3E;yang ragu-ragu di jalan itu&#x3C;br&#x3E; &#x3C;br&#x3E;tak ada yang lebih arif&#x3C;br&#x3E;dari hujan bulan Juni&#x3C;br&#x3E;dibiarkannya yang tak terucapkan&#x3C;br&#x3E;diserap akar pohon bunga itu&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;(Hujan  Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono)&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;tak ada yang lebih tabah&#x3C;br&#x3E;dari hujan bulan Juni&#x3C;br&#x3E;dirahasiakannya rintik rindunya&#x3C;br&#x3E;kepada pohon berbunga itu &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Lelah. Kalaupun ada keluh kesah biarkan ia  sedikit membasah. Sebab seperti angin yang mengabarkannya pada sebuah  senja: bahkan kesedihan: bagaimanapun itu adalah bagian dari kehidupan.  Yang mesti kita juga selami: Yang mesti juga kita akrabi. Ada kalanya,  memang tak perlu membuka rahasia kesedihan kepada sesiapa. Sebab yang  ada adalah kabar tak mesra.  Kadang, artinya adalah  80 % orang tak  peduli pada apa yang kita alami. Dan 20% orang senang dengan penderitaan  kita. Yang demikian membua...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/journal/item/164/Kolom_Sastra_Hujan_Bulan_Juni_Sebuah_Tafsir</guid>
<pubDate>Thu, 2 Jun 2011 08:54:00 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Kolom Media) Membaca Gerak Sri Mulyani</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/journal/item/163/Kolom_Media_Membaca_Gerak_Sri_Mulyani</link>
<description>&#x3C;p&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://www.kanetwork.net/wp-content/uploads/2011/05/sri-mulyani-indrawati-260x260.jpg&#x22;&#x3E;&#x3C;img class=&#x22;alignnone size-full wp-image-78&#x22; title=&#x22;sri-mulyani-indrawati-260x260&#x22; src=&#x22;http://www.kanetwork.net/wp-content/uploads/2011/05/sri-mulyani-indrawati-260x260.jpg&#x22; alt=&#x22;&#x22; width=&#x22;260&#x22; height=&#x22;260&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;Membaca Gerak Sri Mulyani&#x3C;br&#x3E; oleh&#x3C;br&#x3E; Yons Achmad*&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;Sri Mulyani Indrawati. Tokoh yang satu ini, dikenal luas publik saat  kasus ribut-ribut Bank Century. Kasus yang sampai saat ini tak pernah  tuntas. Namun, sempat &#x201C;mengharumkan&#x201D; namanya. Dicaci maki di negeri  sendiri tapi &#x201C;dipuja&#x201D; di luar negeri. Setelah kasus tersebut,&#x26;nbsp; Sri  Mulyani bekerja sebagai manajer di Bank Dunia.&#x26;nbsp; Posisi dan sebuah karir  yang cukup diperhitungkan karena tak sebarang orang bisa duduk pada  kursi ini. Posisi yang cukup disegani. Lalu apa yang perlu dibaca dari  tokoh ini?&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;Memang, saat ini kiprahnya pribadinya  kurang disorot media tanah air. Namun jangan salah, gerakan Sri Mulyani  untuk melaju pada kiprah kepemimpinan nasional 2014 pelan-pelan telah  digagas dan di jalankan oleh Wimar Witoelar dkk. Beragam aksi baik lewat  gerakan nyata maupun pencitraan&#x26;nbsp; lewat media begitu gencar dilakukan  (terutama media online).&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;Berawal dari peluncuran&#x26;nbsp; Srimulyani.net (Merawat republik, memastikan  keadilan)...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/journal/item/163/Kolom_Media_Membaca_Gerak_Sri_Mulyani</guid>
<pubDate>Sat, 21 May 2011 18:30:00 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Kolom Media) Menyoal Koran Online Berbayar</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/journal/item/162/Kolom_Media_Menyoal_Koran_Online_Berbayar</link>
<description>&#x3C;p&#x3E;&#x3C;a href=&#x22;http://www.kanetwork.net/wp-content/uploads/2011/05/judul-koran-aneh1.jpg&#x22;&#x3E;&#x3C;img class=&#x22;alignnone size-medium wp-image-74&#x22; title=&#x22;judul-koran-aneh&#x22; src=&#x22;http://www.kanetwork.net/wp-content/uploads/2011/05/judul-koran-aneh1-300x225.jpg&#x22; alt=&#x22;&#x22; width=&#x22;300&#x22; height=&#x22;225&#x22;&#x3E;&#x3C;/a&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;Menyoal Koran Online Berbayar&#x3C;br&#x3E; Oleh&#x3C;br&#x3E; Yons Achmad*&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;Sekarang ini, untuk bisa membaca Koran Kompas edisi online harus  membayar Rp 50.000/bulan. Banyak yang menggerutu dan menyumpah serapah.  Kompas, yang dikenal sebagai koran nomor satu dalam soal pendapatan  (finansial) dinilai masih punya tabiat serakah dengan memungut bayaran  kepada pembaca media ini pada edisi online. Tapi, apa boleh buat,  masyarakat harus menerima kenyataan pahit ini. Bagi masyarakat menengah  ke atas, tentu tak jadi soal. Tapi bagi masyarakat pertengahan perkotaan  yang haus informasi, tentu kenyataan ini membuat jengkel saja.&#x3C;br&#x3E; &#x3C;br&#x3E; Memang, masyarakat masih bisa mengakses judul-judul Kompas edisi online.  Jadi misalnya ada berita atau artikel yang sekiranya menarik, mereka  berkemungkinan baru membeli edisi cetaknya. Masih agak lebih manusiawi&#x26;nbsp;  misalnya dibandingkan&#x26;nbsp; dengan Koran online Jawapos yang lebih sadis.  Menutup semuanya. Kecuali bagi mereka yang juga mau membayar langganan  beritanya, baru mereka m...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/journal/item/162/Kolom_Media_Menyoal_Koran_Online_Berbayar</guid>
<pubDate>Thu, 19 May 2011 08:10:00 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Kolom Sastra) Sastra Kampung Halaman</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/journal/item/161/Kolom_Sastra_Sastra_Kampung_Halaman</link>
<description>&#x3C;p&#x3E;Sastra Kampung Halaman&#x3C;br&#x3E; oleh&#x3C;br&#x3E; Yons Achmad*&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;&#x201C;Bila kau jadi pengarang, jadilah pengarang yang santun.&#x3C;br&#x3E; Kau tak usah ikut-ikutan pengarang yang banyak bicara.&#x3C;br&#x3E; Lain yang ditulis, lain pula tindak tanduknya&#x201D;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;(Benny Arnas dalam cerpen &#x201C;Anak Ibu&#x201D;)&#x3C;br&#x3E; &#x3C;br&#x3E; Apa itu sastra kampung halaman? Istilah ini barangkali memang belum  populer dikalangan pecinta sastra Tanah Air. Hanya saja, kalau menelisik  cerpen-cerpen Benny Arnas, pengarang muda dari Lubuklinggau, Palembang,  sepertinya tak terlalu keliru kalau istilah itu dilekatkan pada  karya-karyanya. Ya, Benny Arnas sang pengusung sastra kampung halaman.&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p&#x3E;Karya sastra yang lahir berdasarkan pengalaman kehidupan keseharian  pengarangnya. Karya yang membawa unsur lokal dari daerah tempat di mana  pengarang lahir dan tumbuh besar di sana. Meramunya, tentu tak melulu  kenyataan keseharian saja yang diangkat, layaknya sebuah karya sastra,  selalu mendapatkan bumbu wajib di dalamnya, yaitu imajinasi. Semacam  itulah kira-kira warna sastra Benny Arnas dalam buku k...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/journal/item/161/Kolom_Sastra_Sastra_Kampung_Halaman</guid>
<pubDate>Mon, 16 May 2011 12:39:00 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Kolom Politik) Menyegarkan KAMMI</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/journal/item/160/Kolom_Politik_Menyegarkan_KAMMI</link>
<description>Dimuat di Majalah Sabili Edisi no 12 Sampai&#x26;nbsp; 3 Februari 2011&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;==================================&#x3C;br&#x3E;Menyegarkan KAMMI&#x3C;br&#x3E;Oleh&#x3C;br&#x3E;Yons Achmad* &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Apa kiprah KAMMI untuk bangsa? Sebuah pertanyaan sederhana, namun pasti terasa sulit menjawabnya. Kenapa? Jelas, membaca perkembangan terkini, organisasi ini diakui atau tidak memang miskin kiprah. Barangkali kiprah terbesar organisasi ini&#x26;nbsp; hanya berada pada fase awal&#x26;nbsp; kelahiran yaitu ikut menurunkan rezim Soeharto. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Selepasnya, ibarat ada dan tiada. Mungkin pernyataan ini terkesan mengerdilkan dan mengecilkan kiprah KAMMI, tapi apa boleh buat, kenyataan memang demikian. Sebagai organisasi besar, setidaknya secara kuantitas (jumlah anggota), miskinnya kiprah ini menjadi tanda tanya besar, ada apa dengan KAMMI, kemana KAMMI selama ini? &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Menyambut Muktamar KAMMI yang akan berlangsung di kota Serambi Mekah nanti, rasanya KAMMI perlu mendapat penyegaran. Penyegaran ini penting agar KAMMI bisa diperhitungkan dalam kancah gerakan mahasiswa. Setidaknya, ...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/journal/item/160/Kolom_Politik_Menyegarkan_KAMMI</guid>
<pubDate>Tue, 25 Jan 2011 14:43:23 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Kolom Media) Manajemen Krisis Garuda Indonesia</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/journal/item/159/Kolom_Media_Manajemen_Krisis_Garuda_Indonesia</link>
<description>&#x3C;img class=&#x22;alignleft&#x22; src=&#x22;http://multiply.com/mu/penamuda/image/ReOVJvuRV7ME+mR47Bykyw/photos/1M/300x300/35/Logo-Garuda-Indonesia.jpg?et=OK7%2CUTfBIrE0EqTfLXpY0A&#x26;amp;nmid=0&#x22; border=&#x22;0&#x22;&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;font-style: italic;&#x22;&#x3E;Garuda Indonesia menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada para pengguna jasa sehubungan dengan penundaan dan pembatalan penerbangan, berkaitan dengan penerapan sistem monitoring operasional yang baru. &#x3C;br style=&#x22;font-style: italic;&#x22;&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;font-style: italic;&#x22;&#x3E;Saat ini Garuda terus melaksanakan upaya dan langkah-langkah perbaikan, dan mengharapkan kegiatan penerbangan dapat berjalan normal kembali sesegera mungkin.&#x3C;br style=&#x22;font-style: italic;&#x22;&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;font-style: italic;&#x22;&#x3E;Melalui kesempatan ini kami ingin menyampaikan bahwa sehubungan dengan terjadinya gangguan penerbangan tersebut, maka Garuda Indonesia memberikan kompensasi sebesar dua kali harga tiket bagi penumpang yang melakukan pembatalan penerbangannya. (adv/adv)&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Itulah advertorial Garuda Indonesia di situs Detik.com&#x26;nbsp; setelah terjadi &#x201C;kekacauan&#x201D;. Sebelum advertorial itu muncul, Situs berita Detik.com memang mengabarkan pemberitaan buruk atas Garuda Indonesia.Puluhan berita bahkan lebih mengabarkan tentang penundaaan dan pembatalan penerbangan yang membuat marah pengguna jasa. Dan ini citra buruk perusahaan Bung !&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Atas kejadia...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/journal/item/159/Kolom_Media_Manajemen_Krisis_Garuda_Indonesia</guid>
<pubDate>Fri, 26 Nov 2010 14:14:36 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Kolom Media) Indra  J Piliang Perangi  JIL lewat Twitter</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/journal/item/158/Kolom_Media_Indra_J_Piliang_Perangi_JIL_lewat_Twitter</link>
<description>Indra&#x26;nbsp; J Piliang Perangi&#x26;nbsp; JIL lewat Twitter&#x3C;br&#x3E;Oleh&#x3C;br&#x3E;Yons Achmad*&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Saat Indra J Piliang, memprokamirkan diri di Twitter melawan JIL (Jaringan Islam Liberal), saya memantau dan serius mengamati. Sambil mencari-cari adakah sesuatu yang menarik dan berisi. Bukan sekedar soal sempit urusan pribadi. Agak kesulitan saya memilah-milah berondongan &#x201C;kicauan&#x201D; yang muncul. Agak melelahkan mata dan pikiran, belum lagi, kalau internet ngadat. Bisa kesal kita Tapi apa boleh buat, komunikasi digital terbaru&#x26;nbsp; memaksa begitu. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Dari pantauan saya, memang belum ada isi yang&#x26;nbsp; benar-benar-baru dari perlawanan Indra terhadap JIL tersebut. Yang paling dominan justru kritikan Indra atas gaya orang-orang atau tokoh-tokoh JIL. Diantaranya sering memelintir informasi lalu mengambil kesimpulan (tambahan: biasanya keliru), suka sok paham atas sesuatu yang tidak mereka kuasai, sering menafsirkan sesuatu seenaknya sendiri, suka mengkritik tapi anti kritik dll&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Apa makna semua itu? Banyak. Tapi bagian saya s...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/journal/item/158/Kolom_Media_Indra_J_Piliang_Perangi_JIL_lewat_Twitter</guid>
<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 14:15:09 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Kolom Media) Analisa Pemberitaan Tifatul</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/journal/item/157/Kolom_Media_Analisa_Pemberitaan_Tifatul</link>
<description>Tifatul Sembiring. Menteri kita yang satu ini kerap sekali diberitakan oleh media. Baik cetak maupun online. Menjadi begitu populer, menjadi begitu terkenal. Tapi jangan bangga dulu. Media kita masih beridiologikan &#x201C;Bad News is Good News&#x201D;. Nah, Tifatul Sembiring adalah sasaran empuk dan bulan-bulanan pemberitaan media. Sangat ironis memang. Terkenal dan populer, bukan karena capaian prestasi kerjanya. Tapi pemberitaan buruknya.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Notabene Tifatul Sembiring adalah Menteri Komunikasi dan Informasi, eh malah sering diplesetkan menjadi menteri mis-komunikasi dan mis-informasi. Biasanya, yang melakukannya mereka, para &#x201C;aktivis liberal&#x201D; dimana kerap sekali&#x26;nbsp; mengolok-olok apapun yang dilakukan oleh menteri kita yang satu ini.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Terbaru. &#x201C;Kasusnya&#x201D; bersalaman dengan Mrs Obama alias istri Presiden Obama. Lagi-lagi, sang menteri menjadi bulan-bulanan media, tak hanya media lokal dan nasional, media luar negeripun memberitakannya dengan penuh ironi. Dalam kasus ini, dilihat dari segi pencitraan, a...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/journal/item/157/Kolom_Media_Analisa_Pemberitaan_Tifatul</guid>
<pubDate>Tue, 16 Nov 2010 05:29:39 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Kolom Media) Ekstasi Pecandu Media</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/journal/item/156/Kolom_Media_Ekstasi_Pecandu_Media</link>
<description>Ekstasi Pecandu Media&#x3C;br&#x3E;Oleh&#x3C;br&#x3E;Yons Achmad*&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Ekstasi itu semacam &#x201C;Kemabukan&#x201D;. Begitu kata kritikus media Baudrilard. Saya kira istilah ini masuk akal dan relevan dengan fenomena jaman sekarang, fenomena hari ini. Dimana, banyak orang telah menjadi pencandu media. Akut, bahkan kronis. &#x201C;Kemabukan&#x201D; melanda masyarakat kontemporer. Tak hanya kaum menengah perkotaan, juga anak-anak muda di pelosok desa. Lewat Handphone, atau warnet langganannya.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x201C;Mabuk&#x201D; segala hal. Baik dalam komunikasi, komoditi, konsumsi, hiburan, sosial, politik. Semuanya. Ini mengerikan.&#x26;nbsp; Tak hanya dalam kehidupan maya, juga merambat dalam kehidupan nyata seseorang.&#x26;nbsp; Para pecandu media menemukan dunianya sendiri. Tak sadar menjadi semacam makhluk autis yang asyik dengan dunianya sendiri.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Dalam interaksinya dengan media, Anthoni G Wihelm dalam &#x201C;Demokrasi Era Digital&#x201D; menyebut dua kubu kalangan ekstrem. Kaum Dystopian yang anti pati terhadap teknologi, khususnya teknologi media karena dianggap bisa merusak tatanan sosial, ...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/journal/item/156/Kolom_Media_Ekstasi_Pecandu_Media</guid>
<pubDate>Tue, 16 Nov 2010 04:39:43 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Resensi) Sejarah Dunia Versi Islam</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/reviews/item/21</link>
<description>Sejarah Dunia Versi Islam
Oleh
Yons Achmad*

Judul  : Dari Puncak Bagdad, Sejarah Dunia Versi Islam
Penulis  : Tamim Ansary
Penerbit : Zaman
Penerjemah : Yuliani Liputo
Tebal  : 589 hal
Harga  : Rp100.000,- (edisi hardcover)
Cetakan  I : 2010

Sejarah dunia selalu merupakan cerita tentang bagaimana &#x201C;kita&#x201D; sampai di sini sekarang, sehingga bentuk narasi secara mendasar bergantung pada siapa yang kita maksud &#x201C;kami&#x201D; dan apa yang kita maksud dengan &#x201C; Di sini dan sekarang&#x201D;

(Tamim Ansary)

Seperti dikatakan Tamim dalam buku ini (hal 21) seperti tersebut diatas, begitulah sejarah yang kita kenal. Sejarah dunia, khususnya dalam pandangan Barat tradisional mengandaikan bahwa di sini dan sekarang adalah peradaban industrial (dan pasca industrial) demokratis. Tepatnya era pengagungan kapitalisme.

Di Amerika Serikat, anggapan lebih lanjut menyatakan bahwa sejarah dunia mengarah kepada kelahiran cita-cita pendirinya tentang kebebasan dan kesetaraan serta akibatnya pada kebangkit...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/reviews/item/21</guid>
<pubDate>Sun, 26 Sep 2010 12:58:34 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Kolom Media) Antara Facebook, Twitter dan Blog</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/journal/item/155/Kolom_Media_Antara_Facebook_Twitter_dan_Blog</link>
<description>Antara Facebook, Twitter dan Blog&#x3C;br&#x3E;Oleh&#x3C;br&#x3E;Yons Achmad*&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br style=&#x22;font-style: italic;&#x22;&#x3E;Facebook semacam rumah kontrakan,&#x3C;br style=&#x22;font-style: italic;&#x22;&#x3E;Twitter kost-kosan dan &#x3C;br style=&#x22;font-style: italic;&#x22;&#x3E;Blog, itulah rumah sejati kita&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Facebook. Sudah sekitar 6 bulan saya tidak aktif. Beralih ke twitter, bertahan sampai&#x26;nbsp; sekarang dan blog sudah jarang dibelai, hanya 1-2 postingan sebulan. Dengan bergabung di facebook, saya sempat kembali dipertemukan oleh teman-teman sewaktu sekolah atau kuliah dulu, sempat berbagi informasi (artikel/resensi buku). Selebihnya komentar-komentar tak jelas. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Beralih ke twitter, saya banyak mendapatkan ilmu dari para pakar. Puisi (Hasan Aspahani), internet sehat (Donny BU), kepenulisan (Ollie/Jonru), marketing online (Nukman), sastra (Eka Kurniawan), agama (Qurais Shihab) bisnis (Roni Yuzirman). Selebihnya, untuk berkomunikasi dengan Geng &#x201C;Friday Jazz&#x201D;&#x26;nbsp; Margo City Depok (Muthia, Meniex, Ajo, Iwan, Bakti).&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Lalu apa setelah itu? Saya kadang berpikir, seperti saat ini. Apakah sudah bisa memberikan makna pada media sosial tersebut. Artinya, apakah den...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/journal/item/155/Kolom_Media_Antara_Facebook_Twitter_dan_Blog</guid>
<pubDate>Fri, 24 Sep 2010 13:56:18 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Resensi) Public Relations Ala Wimar</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/reviews/item/20</link>
<description>Menyegarkan Public Relations
Oleh
Yons Achmad*

Judul Buku	: Public Relations Ala Wimar
Penerbit	: Grasindo
Penulis		: Merry Magdalena
Cetakan	: I  2010
Tebal		: 106 halaman

Apa yang menarik dari dunia PR sekarang? Rasanya tak ada. Hanya, keriuhan  dan kesibukan para npraktisi PR menjalankan fungsinya melalui media baru yang akrab dikenal sebagai social media (Socmed). Konkritnya melalui media semacam facebook, twitter dsb.

Pertanyaan lanjutannya adalah adakah pemikiran baru di dunia PR? Lagi-lagi, mungkin para praktisi PR akan kesulitan menjawabnya. Di tengah minimya pemikiran baru tentang PR tersebut, muncul buku &#x201C;Public Relations Ala Wimar&#x201D; yang walaupun tidak begitu menawarkan sesuatu yang baru, tadi setidaknya bisa sebagai penyegaran untuk mengevaluasi perkembangan dunia PR  saat ini.

Buku ini merupakan rajikan hasil wawancara  dengan Wimar Witoelar. Berisi tentang aktivitasnya bertahun-tahun memimpin perusahaan konsultan PR InterMatrix Communications (IMX). Tentu...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/reviews/item/20</guid>
<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 01:56:21 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Resensi) Tergoda  Novel Sakura</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/reviews/item/19</link>
<description>Tergoda  Novel Sakura
:yons achmad*

Sakura...
Imaji dari negeri jauh
Bunga-bunga 
Yang membisikkan namaMu

Apa yang kau pikirkan tentang Sakura? 

&#x201C;Oh betapa cantiknya&#x201D;. Mungkin katamu. Tapi cantik yang semacam apa, jelaskan-jelaskan?

Sakura. Entahlah, ia hanya ada di negeri Jauh. Sebuah negeri di mana selalu mengingatkan saya sebuah kenangan pada perempuan gadis Jepun bermata lembut itu...(yang kini entah di mana). 

Lalu, sebuah senja,  pada hujan yang membasah di arena pesta buku Jakarta: disitulah terpampang Sakura, novel Sakura: karangan Nova Ayu Maulita terbitan Lingkar Pena Publishing House. Dan sekonyong-konyong saya tergoda. 

Kurang yakin, saya SMS Mbak Dee, CEO Penerbit itu &#x201C;Mbak Novel Sakura rokomend nggak&#x201D;. Dibalasanya: &#x201C;Sangat&#x201D;. Oh...jawaban singkat dan provokatif. Akhirnya, novel Sakura sudah di tangan. Di akhir pekan, pelan-pelan saya membacanya.

Ceritanya, tak terlalu mengecewakan. Tentang tokoh Kirana yang juga tergoda Sakura. Eh, tepatnya terkagu...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/reviews/item/19</guid>
<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 02:29:49 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Kolom Media) Dahlan Iskan, Media dan Listrik GRATIS</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/journal/item/154/Kolom_Media_Dahlan_Iskan_Media_dan_Listrik_GRATIS</link>
<description>Dahlan Iskan, Media dan Listrik GRATIS&#x3C;br&#x3E;yons achmad*&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Orang media (Mantan bos Jawa Pos Group) ngurusi listrik, apa kata dunia? Tapi, itulah kenyataannya. Mungkin, hanya di Indonesia yang demikian terjadi. Lantas, bagaimana masyarakat mensikapinya? Beragam. Ada yang mendukung. Tapi tak sedikit yang mencemooh. Hasilnya, sampai hari ini listrik masih sering byar pet alias masih sering mati.&#x26;nbsp; Suatu ketika, Dahlan Iskan diremehkan dan sepertinya dia kesal betul. Wajar dia juga manusia. Apa pasal?&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Sependek informasi yang saya ikuti, awalnya karena muncul isu ada kenaikan tarif listrik dari pemerintah. Seperti biasanya&#x26;nbsp; PT PLN&#x26;nbsp; (persero) selalu disalahkan. Suara keras tentu dari para anggota DPR di Senayan sana. Sebagai Direktur Utama PLN tentu nggak mau juga disalahkan. Kemudian munculah ide listrik gratis bagi orang miskin. Ide ini sebenarnya bukan serta merta atau benar-benar ide PLN. Namun, hanya sekedar wacana yang digunakan Dahlan Iskan untuk menampik alasan orang-orang yang a...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/journal/item/154/Kolom_Media_Dahlan_Iskan_Media_dan_Listrik_GRATIS</guid>
<pubDate>Tue, 15 Jun 2010 01:39:26 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Kolom Media) Politik Video Porno</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/journal/item/153/Kolom_Media_Politik_Video_Porno</link>
<description>Politik Video Porno&#x3C;br&#x3E;Oleh&#x3C;br&#x3E;Yons Achmad*&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Politik, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) salah satunya diartikan sebagai sebuah tindakan : mengenai siasat. Saya tertarik mengkaji politik video porno (Diduga Ariel VS Luna &#x26;amp; Cut Tari) yang begitu banyak menyita perhatiaan khalayak. Satu pokok mendasar yang ingin saya baca adalah, siapa diuntungkan dan siapa dirugikan dalam kasus video porno bin cabul tersebut.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Saat saya menulis kolom singkat ini, belum ketahuaan apakah video tersebut Ariel VS Luna Maya &#x26;amp; Cut Tari atau bukan. Polisi sedang mengusutnya, termasuk mencari penyebarnya. Bagi saya, sebagai peminat isu pemberitaan yang &#x201C;heboh-heboh&#x201D;, Persoalan itu biarlah pihak berwenang yang menyelesaikannya. Saya akan fokus ke masalah arus informasi kabar video porno tersebut kaitannya dengan politik atawa siasat pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari kasus ini.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Satu institusi yang paling diuntungkan tentu media. Televisi ramai-ramai memberitakan kasus tersebut, penonton membuncah, acar...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/journal/item/153/Kolom_Media_Politik_Video_Porno</guid>
<pubDate>Wed, 9 Jun 2010 12:51:35 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Kolom Media) Strategi  Informasi Israel</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/journal/item/152/Kolom_Media_Strategi_Informasi_Israel</link>
<description>Strategi&#x26;nbsp; Informasi Israel&#x3C;br&#x3E;Oleh&#x3C;br&#x3E;Yons Achmad*&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Aksi terorisme kembali dilakukan Israel. Kali ini penyerangan membabi-buta atas armada kebebasan : Kafilah Freedom Flotilla yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza. Beragam pandangan muncul dalam kasus ini. Sebagian&#x26;nbsp; besar mengutuk Israel, tapi satu negara semacam Amerika Serikat (AS) hanya &#x201C;menyesal&#x201D; atas jatuhnya korban. Saya tak akan lebih jauh menyoroti sisi politik. Saya akan fokus untuk menyoroti soal arus strategi informasi dan media terkait kasus ini. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Saya percaya, selain melakukan aksi terorisme, Israel sudah pasti melakukan serangkaian strategi informasi yang akan membenarkan aksi tersebut. Tepatnya akan melakukan penyesatan publik. Penduduk Indonesia, tentu tak lepas dari target penyesatan opini publik dalam kasus ini. Disinilah nantinya wacana akan bertarung. Antara kemuliaan dan solidaritas misi kemanusiaan itu dan argumentasi pembenaran atas aksi terorisme Israel. Bagaimana permainan strategi informasi berjalan? Mari ki...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/journal/item/152/Kolom_Media_Strategi_Informasi_Israel</guid>
<pubDate>Thu, 3 Jun 2010 06:29:00 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Kolom Media) Menjadi Sang Influencer</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/journal/item/151/Kolom_Media_Menjadi_Sang_Influencer</link>
<description>Menjadi Sang Influencer&#x3C;br&#x3E;Oleh&#x3C;br&#x3E;Yons Achmad*&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Orang berkicau di twitter dibayar jutaan rupiah. Hah, bagaimana ceritanya? Di era industri kreatif inilah hal itu bisa terjadi. Lengkapnya : Bagaimana hal itu berlangsung? Bagaimana permainannya? Ini yang akan saya bahas secara singkat dalam kolom ini. Sebagai pengamat media (online), saya tertarik membahasnya. Siapa tahu, setelah ini Anda menjadi tergerak dan terinspirasi untuk beraktivitas di dunia maya secara lebih serius, fokus dan terarah. Serta membawa hasil tentunya.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Pemandangan terkini, saat ini perusahaan rame-rame memasuki dunia social media (terutama facebook dan twitter). Mereka melakukan semacam pengenalan produk tertentu dengan melakukan interaksi yang menyenangkan dengan khalayak di social media. Mengadakan kuis-kuis atau kontes tertentu atau mengadakan lomba foto dengan obyek brand atau produk tertentu dsb. Intinya, mereka mencoba melakukan kampanye online&#x26;nbsp; dengan metode word of mouth&#x26;nbsp; (wom) marketing atau dari mulut ke mu...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/journal/item/151/Kolom_Media_Menjadi_Sang_Influencer</guid>
<pubDate>Mon, 24 May 2010 05:43:18 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Kolom Media) Provokasi Gambar Nabi</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/journal/item/150/Kolom_Media_Provokasi_Gambar_Nabi</link>
<description>Provokasi Gambar Nabi&#x3C;br&#x3E;Oleh&#x3C;br&#x3E;Yons Achmad* &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Provokasi. Kembali oknum tertentu mencoba mengusik ketenangan umat Islam. Di dunia maya, tanggal 20&#x26;nbsp; Mei 2010 kemarin terencanakan sebuah kontes menggambar kartun Nabi dengan tema &#x22;Everybody Draw Mohammed Day.&#x22; Pencetusnya Molly Norris, seorang kartunis yang berasal dari Seattle Amerika Serikat. Walaupun kontes tersebut akhirnya gagal terlaksana, dan Molly telah meminta maaf kepada umat Islam, tapi fenomena ini penting untuk kita catat sebagai peristiwa provokasi yang kesekian. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Kalau kita pikir dengan logika, kontes tersebut sangat rawan dengan pelecehan. Layaknya sebuah kontes, tentu saja ada kebebasan berekspresi disana. Kebebasan untuk menuangkan ide, mengembangkan imajinasi dan mereka-reka wajah nabi sesuai dengan yang dikehendakinya. Padahal, mereka bisa jadi mungkin tak punya referensi atas imajinasi yang digambarnya. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Kita bisa berkaca pada peristiwa beberapa tahun lalu. Dimana koran-koran Denmark memunculkan kartu nabi yang begitu melec...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/journal/item/150/Kolom_Media_Provokasi_Gambar_Nabi</guid>
<pubDate>Sun, 23 May 2010 04:33:09 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Kolom Media) Menyorot Kampanye Demokrat 1</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/journal/item/149/Kolom_Media_Menyorot_Kampanye_Demokrat_1</link>
<description>Menyorot Kampanye Demokrat 1&#x3C;br&#x3E;Oleh&#x3C;br&#x3E;Yons Achmad*&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Menggoda. Ini yang saya rasakan ketika menyorot kampanye perebutan Ketua Umum Partai Demokrat (Demokrat 1). Yang bertarung, Andi Malarageng melawan Anas Urbaningrum. Saya tak banyak mengikuti jalannya kampanye di dunia nyata. Saya hanya fokus mengamati kampanye mereka di media online, khususnya lewat situs berita terbesar Detik.com.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Ada beberapa hal yang saya catat dari kampanye tersebut:&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Pertama, kampanye&#x26;nbsp; yang dilakukan keduanya dalam bentuk &#x201C;advertorial&#x201D;. Artinya tim sukses masing-masing menyewa (membayar) ruangan kepada Detik.com untuk menampilkan berita-berita mengenai kandidat keduanya. Rasa-rasanya, ini boleh dikatakan strategi baru dalam media online.&#x26;nbsp; Namun, dalam perhitungan saya, porsi berita Andi Malarengeng lebih besar ketimbang Anas Urbaningrum. Saya kurang tahu apa sebabnya.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Kedua, baru beberapa hari terakhir dengan porsi yang sedikit tersebut&#x26;nbsp; tim sukses Anas Urbaningrum memasang iklan Banner besar pada&#x26;nbsp; ruang...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/journal/item/149/Kolom_Media_Menyorot_Kampanye_Demokrat_1</guid>
<pubDate>Thu, 20 May 2010 13:11:57 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Kolom Media) Konsultan &#x26; Riset Media</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/journal/item/148/Kolom_Media_Konsultan_Riset_Media</link>
<description>&#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;text-align: center;&#x22; align=&#x22;center&#x22;&#x3E;&#x3C;b style=&#x22;&#x22;&#x3E;Konsultan &#x26;amp;  Riset  Media&#x3C;/b&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;text-align: center;&#x22; align=&#x22;center&#x22;&#x3E;Oleh&#x3C;/p&#x3E;   &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;text-align: center;&#x22; align=&#x22;center&#x22;&#x3E;Yons Achmad*&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;text-align: center;&#x22; align=&#x22;center&#x22;&#x3E; &#x3C;br&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;text-align: center;&#x22; align=&#x22;center&#x22;&#x3E; &#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;text-align: justify;line-height: 150%;&#x22;&#x3E;Sejak  kecil saya suka dengan profesi jurnalis.  Sepertinya  keren,  terkesan intelek (orang pintar) dan yang  paling penting bisa berkeliling dunia meliput peristiwa. Tak ragu,  selepas SMA saya memilih jurusan Ilmu Komunikasi, spesialisasi  Jurnalistik. Namun sayang. Justru, disaat kuliah di Jurusan Ilmu  Komunikasi inilah saya ragu untuk menjadi jurnalis. Untuk magang di  koran lokalpun rasanya canggung. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;text-align: justify;line-height: 150%;&#x22;&#x3E; &#x3C;br&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;text-align: justify;line-height: 150%;&#x22;&#x3E; &#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;text-align: justify;line-height: 150%;&#x22;&#x3E;Masalahnya  hanya satu : Obyektifitas. Jurnalis harus netral, tidak memihak. Begitu  doktrin yang kerap saya dengar. Sungguh, saya tak bisa melakukannya.  Saya bimbang. Untungnya saat kuliah, saya mendapat kuliah &#x201C;Penulisan  Kreatif&#x201D; Hanya disinggung satu semester saja, itupun hanya sub dari mata  kuliah. Tapi justru kuliah itu begitu membekas.&#x3C;/p&#x3E;&#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;text-align: justify;line-height: 150%;&#x22;&#x3E; &#x3C;br&#x3E;&#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;text-align: justify;line-height: 150%;&#x22;&#x3E; &#x3C;/p&#x3E;  &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;text-align: justify;line-height: 150%;&#x22;&#x3E;Saya  begitu kesengsem. Sejak itulah, semua mata kuliah yang tak terkait  dengan itu saya abaikan. Saya malah sibuk membaca buku-buku tentang  kepenulisan, novel-novel apik atau...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/journal/item/148/Kolom_Media_Konsultan_Riset_Media</guid>
<pubDate>Thu, 20 May 2010 09:00:39 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Kolom Sastra) Mukjizat Menulis</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/journal/item/147/Kolom_Sastra_Mukjizat_Menulis</link>
<description>      &#x3C;h3 class=&#x22;post-title entry-title&#x22;&#x3E; &#x3C;/h3&#x3E;   Mukjizat Menulis&#x3C;br&#x3E;:yons achmad*&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Pada akhirnya menulis adalah untuk memperkaya&#x3C;br&#x3E;hidup orang-orang yang akan membaca karyamu&#x3C;br&#x3E;dan memperkaya hidupmu sendiri pula&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;(On Writing : Stephen King)&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Menulis adalah berbagi. Ya, berbagi pemikiran, berbagi kisah, berbagi pengalaman hidup. Walau agak terlambat, saya rela menceburkan diri di dunia ini, dunia tulis-menulis. Mungkin banyak diantara penulis yang sudah mulai berkarir sejak kecil. Hasilnya sudah banyak menghasilkan karya dalam bentuk buku. Salut saya. Tapi, karena rupanya saya memang agak terlambat, ya memang harus bersabar untuk membuat buku. Tak ada salahnya kan diam-diam mengejar ketertinggalan. Sebab saya selalu yakin, tak ada kata terlambat untuk mengerjakan apapun yang baik.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Tentang menulis sendiri, boleh dong saya cerita sedikit. Saya pernah menulis artikel tentang lingkungan semasa SMP. Artikel itu mendapat juara saat perlombaan se-Magelang. Selain dapat hadiah uang dan bisa mentraktir teman-teman waktu itu, juga berkesempatan bert...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/journal/item/147/Kolom_Sastra_Mukjizat_Menulis</guid>
<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 01:52:01 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>(Kolom Bisnis) Follow Your Passion</title>
<link>http://penamuda.multiply.com/journal/item/146/Kolom_Bisnis_Follow_Your_Passion</link>
<description>Follow Your Passion&#x3C;br&#x3E;:yons achmad*&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Saya pernah membaca seri buku &#x201C;Chicken Soup for Writers Soul&#x201D;. Dalam buku itu saya membaca sebuah kutipan yang menarik &#x201C;Jika kamu belum percaya bisa hidup dari menulis, makan jangan ragu untuk beralih kepada pekerjaan lain. Tapi, Jika kamu merasa menulis adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa kamu lakukan, maka kerjakanlah dengan tulus dan kerja keras, percayalah suatu saat pasti menghasilkan&#x201D;.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Membaca kata-kata itu jadi ingat istilah passion. Banyak orang yang selaku menganjurkan bahwa bekerja akan lebih menyenangkan kalau sesuai dengan passion kita. Mengenai passion sendiri barangkali belum ada padanan kata yang pas dalam bahasa Indonesia. Ketika saya membuka kamus, passion diartikan sebagai nafsu, gairah, keinginan besar, kegemaran. Saya rasa arti ini juga belum pas disematkan untuk menggantikan kata passion.&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Tapi, saya yakin banyak orang yang sudah mengetahui maksud passion itu sendiri. Walau dengan perspektifnya masing-masing. Saya sendiri mangartika...</description>
<guid isPermaLink="true">http://penamuda.multiply.com/journal/item/146/Kolom_Bisnis_Follow_Your_Passion</guid>
<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 13:41:17 -0000</pubDate>
</item>
</channel>
</rss>
